RSS

Juara Sejati (2008)

14 Nov

Sawung Jabo – Juara Sejati

Nyalakan api di dadamu
Kami nyanyikan lagu untukmu
Doa dan cinta menyertaimu
Menangkan pertandinganmu

Raihlah raih mataharimu
Sembahkan bunga pada pertiwi
Pantang menyerah sebelum kalah
Bangkit, bangkitlah lagi

Juara sejati berjiwa pelangi
Panji-panji menari-nari
Di langit Merah Putih

Ini bagian dari Album bertajuk ‘Juara Sejati’, sedangkan isi albumnya ada 13 lagu yang diproduksi tahun 2008 yang mixingnya dilakukan di Musica Studio. Album ini belum pernah di launching dan tidak disiapkan untuk sebuah momentum. Album ini dikeluarkan karena sedang asyik saja mikirin sepak bola saat itu, antara aku (Erwiyantoro) dan Jabo.

“Juara Sejati” Dalam Gambar dan Impian

Ini sebuah pengalaman nyata, dalam perjalanan saya membangun sepak bola, lewat cara-cara yang tidak lazim. Mungkin, juga karena kebetulan saja, sehingga saya menemukan pengalaman bathin yang tidak terhingga asyiknya. Sejak 2008, saya sering ngobrol dengan musisi legendaris, Sawung Jabo. Dalam pembicaraan intens, musisi yang cinta bola ini sering mengeluh dan sangat prihatin dengan perkembangan sepak bola di tanah Air.

Keluhannya kira-kira begini, ‘Kenapa sekarang bola Indonesia sedang musim tawuran, kenapa para suporter tidak pernah disiplin, karena tak pernah mau menerima kekalahan. Dan, semuanya berdampak merugikan klub dan ofisial sekaligus merugikan masyarakat,” demikian tutur Jabo, yang saat ini bermukim di Australia.

Saya mencoba ingin menemukan solusinya, dari kacamata seorang musisi, yang pernah menelorkan album SWAMI, dengan lagu karangan Jabo, Iwan Fals dan Naniel bertajuk ‘BENTO’. Lagu bernada sarkasme, sinisme dan memiliki karakter musik bergaya trobador ini, ternyata sangat surprise, hingga sangat termasyur hingga saat ini. Dan, apa jawab Jabo, “Saya ini hanya musisi, dan hanya bisa bermain musik, jadi kalau saya diminta apa solusinya, ya saya bisanya menyumbang lirik-lirik, agar bisa memotivasi setiap pemain dan seluruh suporter,” tegasnya.

Okey, kalau begitu silahkan buatkan saya sebuah album yang temanya serba sepak bola. Begitu kira-kira tantangan saya terhadap Sawung Jabo, yang juga pernah bergabung bersama “KANTATA TAQWA”, serta grup “DALBO”. Dalam perjalanan mengumpulkan banyak grup musik bergaya etnis itu, Jabo dalam dua bulan sudah menyelesaikan kompilasi album sepak bola. Dalam kontemplasinya, Jabo memberi saran, kalau judul albumnya adalah ‘JUARA SEJATI’.

Setelah saya mendengar lagu ‘JUARA SEJATI’, ternyata lagu itu sungguh sangat merinding, selain karena karakter musiknya yang digarap sangat rapi dan serius, juga karena liriknya sangat menyentuh jiwa. Dan, setelah saya ulang-ulang mendengar lagu ciptaan Sawung Jabo ini, maka kesimpulannya adalah karakter musiknya mirip atau bisa dijuluki ‘We Are The Champions”-nya Indonesia. Dengan musik bernada hymne – Obade, ternyata ‘JUARA SEJATI” memberikan inspirasi sebagai lagu jagoannya.

Lalu apa kata Jabo tentang ‘JUARA SEJATI” itu, “Ini bisa dijadikan motivasi bagi setiap olahragawan, dan lagu ini tidak hanya sebagai lagu kebangsaan sepak bola, tapi juga bisa untuk semua cabang olahraga apa saja. Intinya, saat mendengar lagu ini, semua atlet bisa termotivasi untuk semakin giat dan berdisiplin meraih cita-citanya, siapa tahu dari lagu ini bisa mencetak atlet berbakat,” lanjut Sawung Jabo, yang sering melahirkan banyak grup, seperti “Sawung Galing”, “Gong Dolly Gong”, ‘GengGong” , “Langit” dengan lagunya ‘Arek-Arek Indonesia”. Dan, yang terakhir 1 November 2012 lalu telorkan ‘Anak Angin’.

Video Klip
Namun, setelah album kompilasi ini selesai sebagai master dan sudah di mixing. Saya mencoba mencetak nyaris lebih dari 300 kopi, untuk saya bagikan kepada teman-teman penggemar musik, atau pun kepada temen-temen wartawan yang terbiasa meliput dunia musik. Rata-rata tanggapannya, sangat bagus. Album ini, pasarnya sangat jelas yaitu komunitas penggila bola, baik di stadion maupun mencinta bola yang lebih memilih nonton tivi.

Saya semakin bersemangat untuk tetap melanjutkan album ini. Salah satunya, saya harus membuat video klip, agar bisa dijadikan lahan bisnis. Jika misalkan ada para pihak yang ingin bekerjasama memperbanyak album kompilasi sepak bola ini. Pilihan saya untuk shooting pembuatan klip, adalah kota Jogjakarta, atau juga di Parangtritis, Bantul.

Dan, dalam dua minggu, skrip gambar dan para model yang dijadikan cerita video klip, sudah tersedia. Saya mendapatkan dua pemain SSB MAS – Marsudi Agwe Santoso, Jogjakarta, berusia 13 dan 14 tahun. Mereka berdua ini, adalah yang terbaik secara skill maupun bakatnya, dari hasil audisi sekitar 50 pemain. Namanya Hisyam Wibowo dan Zhena Kurnia.

Lokasi akhir, sesuai skrip cerita video klip adalah Parangtritis, Bantul. Pada tanggal 20 Mei 2009, saya melakukan shooting selama dua hari, bersama kru dari para mahasiswa yang sekolah di ISI Jogjakarta, dan terbiasa melakukan pengambilan gambar video, secara independent. Sambil menunggu pengambilan gambar demi gambar, saya sempatkan ngobrol bersama Hisyam dan Zhena, dua model yang dijadikan alur cerita ‘JUARA SEJATI’.

Mengawali pertanyaanku, apa yang membuat Zhena mau jadi pemain bola, “Saya memang suka main bola, dan saya juga suka nonton bola di tivi. Saya juga sering begadang nonton liga Inggris, Italia dan Spanyol, “ tutur Zhena, dengan logat Jawa yang sangat kental. Bambang yang ditunggui ibunya saat shooting ini melanjutkan ceritanya, “PSSI pernah membuat seleksi pemain seumur saya di Jogja, kebetulan saya terpilih bersama Hasyim, saya senang bener Om,” lanjutnya.

Tanpa ditanya, Zhena justru sepertinya memberanikan diri untuk menanyakan, “Shooting ini lagunya masuk tivi ya Om. Apa saya bisa jadi terkenal kalau masuk tivi. Apa saya bisa nantinya main bola di Jakarta ya Om,” begitu banyak pertanyaan dari sosok Zhena, yang memiliki tinggi badan 157 cm, dan duduk di kelas II SMP di Jogjakarta.

Wajahnya yang lugu, sambil menerawang matanya melihat matahari yang super terik di sekitar pantai Parangtritis itu, Zhena seolah-olah sedang bermimpi dan mengkhayal tentang masa depannya. Emang kamu mau jadi seperti siapa, tanyaku. Sambil malu-malu, Bambang menjawab, “Saya ingin seperti Bambang Pamungkas, tapi saya juga ingin seperti Budi Sudarsono,” demikian jawabnya.

Lalu, saya semakin bersemangat untuk menanyakan tentang pengetuannya dua sosok yang jadi idolanya itu. Apa yang kamu tahu tentang Bambang Pamungkas dan Budi Sudarsono, tanyaku. Zhena yang mampu mengontrol bola di udara, lebih dari dua menit ini menjawab, “Bambang hebat kalau ambil bola-bola tinggi, dan Budi Sudarsono hebat dan berani bawa bola dribbling ke kotak penalti. Bener nggak Om?,” jawabnya, seolah-olah ragu.
Diam-diam, saya sangat mengagumi pengetahuan Zhena, yang sangat teliti memperhatikan seluk beluk karakter idolanya, Bambang Pamungkas dan Budi Sudarsono. Kota Jogya yang tidak dekat dengan Jakarta, sebagai kiblat sepak bola nasional, ternyata memberi impian-impian yang luar biasa bagi para pemain seusia Zhena dan Hisyam. Namun, sampai saat ini, ternyata tidak terlalu penting disentuh dan tidak mendapat perhatian yang serius oleh para petinggi sepak bola nasional di PSSI.

“Om, gimana caranya saya bisa main seperti Bambang dan Budi. Kalau saya bisa mainkan kombinasi kedua pemain ini, kira-kira bisa nggak?” demikian tanya Zhena, yang bermain sebagai gelandang penyerang di klub SSB MAS tersebut. Saya mencoba membayangkan menjadi seorang pelatih untuk menjawab pertanyaan anak usia muda yang berbakat ini. Tidak gampang memberi ilmu sepak bola kepada anak seusia Zhena, yang sedang asyik-asyiknya bermain bola, dengan cara apa saja, di saat shooting sedang istirahat.

Saya jelaskan, “Kamu, harus punya kedisiplin tinggi, kamu harus tidak merasa capek kalau latihan fisik seberat apa pun, dan kamu harus punya inisiatif yang tinggi. Misalkan, kalau semua pemain sudah pulang, kalau selesai latihan, tapi kamu masih mau berlatih, walaupun matahari nyaris tenggelam,” kata saya menjelaskan. “David Beckham itu latihan menendang tendangan bebas 200 kali setiap hari, apa kamu punya niat seperti cara latihan Beckham?” lanjutku. “Kalau kamu mau seperti Bambang, kamu harus latihan heading lebih dari 100 kali sehari, dan kalau juga ingin seperti Budi Sudarsono, kamu harus selalu punya keberanian melewati lawan tanpa harus takut cedera.”

Penjelasan saya kepada Zhena, tenryata selalu diperhatikan dan didengar secara serius juga oleh Hisyam. Sepertinya menjelasan saya ini sangat membekas di jiwa kedua pemain berbakat itu. Terbukti, selama shooting, jarang sekali mengambil gambar-gambar dari detail-detail cerita yang dilakukan secara re-take (ngambil gambar berulang-ulang). Mereka berdua, hanya mengulang tidak lebih dari delapan kali, dan pihak sutradara sudah mengatakan good picture. Dua hari shooting itu, akhirnya selesai dengan tepat waktu. Yaitu, di sekitar matahari menjelang tenggelam.

Sawung Jabo, yang menjadi music director di album kompilasi ‘JUARA SEJATI’ ini, memberi isyarat, agar nanti malam lebih bagus buat acara untuk melakukan ‘slametan’, ya seperti berdoa dan mengucapkan terima kasih kepada semua kru yang terlibat dalam pembuatan video klip ‘JUARA SEJATI’, yang sudah berjalan lancar dan tidak ada halangan cuaca. Sambil makan malam bersama kru, termasuk saudara-saudara dan orang tua dari Zhena dan Hisyam.

Saya pikir, ini juga kesempatan saya memberi surprise kepada kedua pemain berbakat, Zhena dan Hisyam. Karena, sepanjang saya memperhatikan shooting kedua model pemain bola ini. Ada yang saya rasakan sungguh memprihatinkan, yaitu sepatu bola kedua pemain ini, benar-benar sudah butut, kusam dan mata kakinya sudah nyaris sejajar dengan telapak dasar sepatu. Makanya, ketika ada istirahat, sehari sebelumnya saya sempatkan ke Jogjakarta membeli sepatu, untuk kedua model tersebut. Ukurannya, seharusnya kedua pemain ini sama, yaitu ukuran 13. Namun, di toko sepatu olahraga itu, ternyata hanya ada satu ukuran 13 dan selebihnya ukuran 14. Maka, dengan nekat saya beli dengan ukuran yang berbeda, toh nantinya yang ukuran 14 tetap bisa dipakai.
Maka, saat perjamuan makam malam sekaligus ‘slametan’ setelah sukses shooting video klip ‘JUARA SEJATI’, Sawung Jabo mempersilahkan saya mengucapkan sepatah dua kata kepada semua kru. Dan, saya hanya bisa mengatakan, bahwa saya punya hadiah untuk kedua model klip, yaitu sepatu bola.

Saat itu juga, kedua sepatu itu saya berikan kepada Zhena dan Hisyam. Dan, kemudian saya persilahkan menyantap hidangan makan malam, sekaligus mengucapkan terima kasih semua kru yang terlibat dalam pembuatan video klip ‘JUARA SEJATI’. Tapi, diam-diam setelah semua menyantap hidangan makan malam, Terlihat, Zhena dan Hisyam, justru sedang mencium sepatunya yang baru, sekaligus kemudian mencobanya, tanpa menghiraukan menyantap makan malam.

Sungguh sebuah pengalaman yang tidak saya lupakan. Karena, ternyata sepatu barunya Zhena dan Hisyam itu, memberi harapan dan impiannya, untuk bisa menjadi pemain bola yang serius. Sekaligus punya impian bisa menjadi seperti idolanya – Bambang Pamungkas dan Budi Sudarsono, di kemudian hari.

Jika, PSSI mau serius membangun pembinaan sepak bola, atau juga jika PSSI ingin bermimpi bisa tampil di putaran final World Cup 2022. Maka, pupuklah dan siramlah pemain-pemain usia dini, seperti Zhena, Hisyam dan mungkin masih banyak ana-anak berbakat alam yang tersebar di pelosok Indonesia ini. Mereka ini rata-rata, tidak terurus dan sering dilupakan, sehingga mereka tidak memiliki ilmu dan metode bermain bola dengan benar, serius sekaligus berdisiplin tinggi.

Padahal, World Cup 2022 nanti, usia Zhena dan Hisyam, adalah usia yang sangat matang sebagai pemain bola profesional, yaitu usia 25 atau 26 tahun. Mampukah mimpi Zhena dan Hisyam, juga menjadi mimpinya para petinggi sepak bola Indonesia. Jawabannya! Vidoe klip itu sudah menjadi ‘JUARA SEJATI’ dalam mimpi Zhena dan Hisyam. Bukan, anak pemimpi, karena mereka sudah di lapangan hijau.

Erwiyantoro,
Wartawan yang mencoba jadi produser

Harian GoSport, edisi Maret 2010

 

7 responses to “Juara Sejati (2008)

  1. fendi kurniawan

    November 15, 2012 at 12:46 am

    mantab anak muda !!!
    lanjutken !!!

     
  2. Soetjahjo

    November 18, 2012 at 8:40 am

    Lagunya muncul bertepatan dengan Piala AFF, jadi lebih banyak lagi lagu yang bertemakan bola. kalau sudah ada 10 lagu dengan tema bola, mending dijadikan album kompilasi saja. hehehehe!!
    Tapi album yang pantas apa ya??

     
  3. yudi

    November 27, 2012 at 1:42 am

    hoyong cd na

     
  4. hardiyan

    January 5, 2013 at 7:52 am

    Klo mmg tdk salah backing vocalnya menggunakan suara2 pengamen jalanan Depok..kok tidak dicantumin jg siihh?? Hmmmm (???) Knp ya???
    Seminggu penuh looo para pengamen tersebut mondar-mandir ke Rumah Kashmir untuk latian…berikan apresiasi kpd mereka jg..

     
    • sawungjabo.wordpress.com

      January 7, 2013 at 6:39 am

      Maaf Ya kalau terlupa disebutkan…Tidak ada maksud melupakan kok sobat. Di backing vocal juga ada keterlibatan anak anak kecil kampung Rawa sekitar Khasmir. Kalau album itu resmi beredar nanti pasti disebutkan siapasiapa yang terlibat.Makasih koreksinya<ACP. (Sawung Jabo)

       
  5. idrus beruang

    January 7, 2013 at 7:42 am

    jngan lupa KGB.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: