RSS

Kilas Balik Sejarah Singkat Sirkus Barock (Episode 5)

16 Jan

1993 Kanvas PutihTulisan singkat ini adalah kesinambungan dari cerita yang terputus sementara karena kesibukan.

Setelah peluncuran album “Bukan Debu Jalanan” Di TIM. Saya bersama sama teman teman Sirkus Barock terus bergerak. Namun agak sedikit tertunda tunda dikarenakan kesibukan saya dan Innisisri, Totok Tewel di Swami dan Kantata. Juga saya yang selalu menyiapkan waktu untuk muter muter ke kota kota kecil untuk cari referensi dan tambahan wacana berkesenian saya.

Banyuwangi, Jember adalah termasuk kota kota yang sering saya kunjungi. Karena di kota kota ini saya jatuh cinta dengan kesenian mereka, musik Hadrah ‘ Kuntulan’ di Banyuwangi dan musik ‘Patrol’ di Jember. Nantinya musik Kuntulan menginspirasi Innisisri dalam mengembangkan musik perkusinya sendiri “Kahanan”.

Pada tahun 1991, saya sudah terpanggil untuk membuat album baru lagi. Tapi masih sedikit tertunda karena kesibukan tur Sirkus Barock dan kesibukan Bengkel Teater saya.

Pada satu hari saya lagi nongkrong di rumah kontrakan saya di Jln Lobi Lobi Kompleks Pertanian, Pasar Minggu. Saya kedatangan teman perempuan dari Jepang. Dia yang menjadi guide kita ( Bengkel Teater Rendra ) saat pentas tur Teater di Tokyo dan Nagasaki, Jepang. Dia pemain Piano yang bagus.

Saat asyik ngobrol dia bertanya, ‘Kapan buat album lagi…?. Saya jawab…’Sudah ada panggilan sih, tapi belum ada modal he he he …’. Tanpa saya duga sebelumnya dia berkata’ Boleh terlibat..? saya mau memodalin album baru Sirkus Barock. Haaah…!! Ini diluar perkiraan saya. Ternyata dia dengan suka hati memodali album kita. Namun saya jelaskan pada Yoko, “Musik Sirkus Barock tidak komersil lhoo”. Dia cuma tersenyum saja. Diam diam saya bersyukur dalam hati dan mempercayai pendapat “Setiap karya mempunyai nasib dan rejekinya sendiri”. Yaaa… Kita sudah memilih jalan hidup kita, maka kita harus menjalani setuntas mungkin.

Maka saya kumpulkan teman teman Sirkus Barock untuk mengabarkan berita bahagia ini dan membicarakan jadwal latihan. Para pendukung datang dari kota Solo, Jogyakarta dan Malang. Mereka adalah, Totok Tewel ,gitar elektrik, Innisisri pada Drum perkusi, Didik Soecahyo pada Bass, Edot Ngalam Bass, Edi Darome Keyboard, Agus Murtono, Biola dan String aransemen, Suzan Piper Backing Vocal. Backing Vocal, Imam Jasmani, Irul, Jojok ( Kelompok Penyamyi Jalan Jogya).

Proses rekaman seperti biasa kita lakukan di Gin’s Studio, Roxy. Operator Fender, Fotografer Willy Priatmojo, Erwin,disain grafis ( juga pembuat logo Sirkus Barock). Dan dari kerja keras kami ini lahirlah album ke tiga Sirkus Barock “Kanvas Putih”. Album ini diedarkan oleh ‘Metrotama’.

Jadi, pada intinya Sirkus Barock adalah bukan sekedar kelompok musik. Akan tetapi adalah sebuah rumah terbuka buat siapa saja yang mau mengolah diri dan menyumbangkan gagasan mereka. Di sini selalu mengolah diri kami bersama sama. Karena kami percaya tidak mungkin karya lahir begitu saja, harus melewati proses yang panjang. Kerja keras yang tuntas yang menjadi landasan kami. Kami tidak sedang melawan arus besar industri musik pop. Tapi kami percaya kalau kami mampu menciptakan arus musik sendiri. Biar saja arusnya kecil tapi kalau lancar kenapa tidak!.

Kami tidak bisa membaca maunya pasar musik yang selalu berubah. Kami hanya percaya bahwa dengan bekerja keraslah maka kami akan bisa mengirim gagasan gagasan pikiran dan opini kami terhadap hidup lewat musik kami, Sirkus Barock. Jadi ibarat perahu yang sedang berlayar, maka ‘Sirkus Barock’ sedang berlayar mengarungi samudra luas musik dan hidup yang tak berbatas. Dan sumber insipirasi kami adalah kenyataan hidup sehari hari yang ada disekitar kami.

Kami tidak akan pernah menyanyikan lagu yang kami sendiri tidak memahami apa kandungan persoalannya. Artinya, Sirkus Barock tidak akan pernah mengobral kata kata dalam setiap lirik dalam lagunya. Bagi Sirkus Barock ,setiap kata ada maknanya, setiap irama ada jiwanya. Setelah kelahiran album ‘Kanvas Putih’ kami pun mementaskan karya kami disetiap kempatan yang ada. Kalau tidak ada kesempatan maka kami pun membuat kesempatan sendiri. Biasanya kami pentas di TIM, Pasar Seni Ancol dan Gedung Kesenian Jakarta.

Dalam periode Kanvas Putih ini waktu saya banyak berbagi dengan kegiatan Swami, Kantata dan Bengkel Teater Rendra. Karena perahu kreatif Sirkus Barock pulalah saya bisa bertemu orang orang besar seperti Rendra, Iwan Fals, Setiawan Djodi, Yockie Soeryoprayogo, Nicky Astria, Innisisri, Totok Tewel dan semuanya yang sudah banyak menyumbangkan gagasan enerjinya pada perjalanan karier saya lewat Sirkus Barock.

Saya tidak mampu menyebutnya mereka satu persatu karena begitu banyak dan mohon kalau ada yang terlupa karena saya tidak pernah berniat lupa sedikitpun untuk jasa jasa merka pada saya dan Sirkus Barock.

Periode ini saya akhiri sampai sekian saja dahulu. Semoga segera bisa segera berlanjut lagi. Dan semoga pula saya mampu mengingat-ingat kembali kejadian masa lalu saya dan Sirkus Barock.

Salam Bathin dan Aku Cinta Padamu….

Penulis : Sawung Jabo

 
Leave a comment

Posted by on January 16, 2013 in Sirkus Barock

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: